"Atas nama pengabdian, kalianlah sejatinya batu karang, Menahan gelombang, menentang badai, Tegak di samudra laut nan lepas."
 
Pada 5 Juni 1596, empat kapal Belanda mendekati pantai barat Sumatera. Delapan belas hari kemudian mereka mencapai pelabuhan Banten di Jawa Barat Daya. Baru saja mereka melempar jangkar, beberapa pedagang Portugis naik ke kapal untuk menghormati pendatang baru itu. Inilah cerita perjumpaan pertama antara orang Belanda dan Portugis di Hindia.

Keempat kapal Belanda itu dipimpin oleh Cornelis de Houtman. De Houtman menghabiskan banyak tahun di Lisbon. Dia berlagak sangat paham segala hal yang berkaitan dengan Hindia dan tahu segala sesuatu tentang navigasi di perairan Timur. Pada dua perjalanan di Hindia, dia ternyata seorang pelagak dan bajingan. Tetapi, dia berhasil memperoleh dukungan dari sekelompok pedagang kaya di Amsterdam. Pedagang-pedagang ini yang memperlengkapi ekspedisi pertama ke Indonesia.

Keempat kapal De Houtman tersebut merupakan perintis dari armada besar yang akan datang. Bagi Indonesia (Hindia), mereka hanyalah pelawat yang datang dan pergi dan segera di lupakan. Mereka terlihat di Banten, tempat mereka menyepakati suatu perjanjian dengan Sultan. Inilah perjanjian pertama yang disepakati antara orang-orang Belanda itu dan Seorang raja Indonesia (Sultan Banten), yang isinya diantaranya sebagai berikut :

“Atas Rahmat Allah, Tuhan Kami, dan berkat kehendak kalian Tuan-tuan, bahwa kalian datang mengunjungi kami dengan empat kapal, dank arena kami melihat surat paten, yang oleh Yang Mulia Pangeran Maurits van Nassau dengan segala hormat telah diperintahkan untuk dipertunjukan kepada kami, yang dengan surat itu kami mengetahui bahwa Yang Mulia menawarkan segala persahabatan dan persekutuan dengan kami yang persahabatannya akan diteguhkan oleh kalian, kami sangat puas untuk menjalin persekutuan dan persahabatan yang langgeng dengan Yang Mulia Pangeran dan dengan kalian, tuan-tuan yang terhormat, dan kami bersumpah akan memelihara persahabatan dan persekutuan ini dan untuk memerintahkan semua rakyat kami untuk melakukan hal yang sama.” (himpunan perjanjian antara perwakilan Belanda dan raja-raja Indonesia yang ditemukan dalam “ Corpus Diplomaticum Neerlando-Indicum)

Ekspedisi de Houtman hanya memberikan keuntungan kecil, meskipun demikian mereka mengerti bahwa satu ekspedisi baru dibawah kepemimpinan yang lebih baik bisa membawa keberhasilan. Segera setelah De Houtman pulang, para pemilik kapal Amsterdam memperlengkapi armada kedua, kali ini dengan delapan kapal. Kelompok pedagang lain mengikuti contoh mereka, dan dalam tahun 1598 saja lima ekspedisi, dengan jumlah total 22 kapal, meninggalkan Belanda menuju Asia bagian Timur. Tiga belas kapal mengambil rute mengelilingi Tanjung Harapan, sementara sembilan mencoba lewat jalur Selat Magellan. Pada tahun 1601 empat ekspedisi pergi ke Indonesia. Kecuali satu, semua ekspedisi ini tidak punya tujuan lain kecuali berdagang. Hanya Van Noort yang membuat pelayaran keliling dunianya jadi perampokan, yang sangat merugikan Spanyol.

Inilah sekilas cerita sejarah tentang kedatangan ekpsedisi armada perdagangan Belanda yang singgah ke dataran Hindia (Indonesia). Lalu darimana argumentasi bahwa Indonesia dijajah Belanda selama 3,5 Abad atau 350 tahun ?????

Bila hitungannya 1596 – 1945 adalah 3,5 abad artinya : “Begitu pelaut dan pedagang avonturir Cornelis de Houtman mendarat di Banten, dengan serta merta Kepulauan Indonesia jatuh ke bawah kekuasaannya”….

Inilah sejarah yang aneh ???

Prof. Taufik Abdullah dalam pidato penganugrahan kepada Prof. Mr. G.J. Resink sebagai anggota kehormatan MSI (Masyarakat Sejarawan Indonesia) tanggal 10 November 1996 mengatakan bahwa “… jasa Prof. Resink yang terpenting adalah dalam lapangan metodologi sejarah. Ia memperkenalkan pendekatan hukum Internasional dalam menelaah sejarah kolonialisme….. Dari penelitiannya ia sampai kepada kesimpulan bahwa kekuasaan Belanda yang dikatakan selama 350 tahun di Kepulauan Indonesia sebenarnya tidak lebih dari mitos politik belaka yang tidak bisa bertahan melawan ujian kebenaran sejarah”.

Yang menjadi pertanyaan mengapa hal tersebut masih tertulis dalam buku-buku sejarah di sekolah dan sering disebut dalam pidato-pidato ???

Referensi :
  • Sejarah Nusantara Indonesia, Bernard H.M. Vlekke, Jakarta, KPG, 2008, bab 5
  • Seabad Kontroversi Sejarah, Asvi Warman Adam, Ombak, 2007, bab 1
 
 
Pada zaman purba, kepulauan tanah air disebut dengan aneka nama. Dalam catatan bangsa Tionghoa kawasan kepulauan tanah air dinamai Nan-hai (Kepulauan Laut Selatan). Berbagai catatan kuno bangsa Indoa menamai kepulauan ini Dwipantara(Kepulauan Tanah Seberang), nama yang diturunkan dari kata Sansekerta dwipa(pulau) dan antara (luar, seberang). Kisah Ramayana karya pujangga Walmiki menceritakan pencarian terhadap Sinta, istri Rama yang diculik Rahwana, sampai keSuwarnadwipa (Pulau Emas, yaitu Sumatra sekarang) yang terletak di Kepulauan Dwipantara.

Bangsa Arab menyebut tanah air kita Jaza’ir al-Jawi (Kepulauan Jawa). Nama Latin untuk kemenyan adalah benzoe, berasal dari bahasa Arab luban jawi (kemenyan Jawa), sebab para pedagang Arab memperoleh kemenyan dari batang pohon Styrax sumatranayang dahulu hanya tumbuh di Sumatera. Sampai hari ini jemaah haji kita masih sering dipanggil “Jawa” oleh orang Arab. Bahkan orang Indonesia luar Jawa sekalipun. Dalam bahasa Arab juga dikenal Samathrah (Sumatra), Sholibis (Sulawesi), Sundah (Sunda), semua pulau itu dikenal sebagai kulluh Jawi (semuanya Jawa).

Bangsa-bangsa Eropa yang pertama kali datang beranggapan bahwa Asia hanya terdiri dari Arab, Persia, India dan Tiongkok. Bagi mereka, daerah yang terbentang luas antara Persia dan Tiongkok semuanya adalah “Hindia“. Semenanjung Asia Selatan mereka sebut “Hindia Muka” dan daratan Asia Tenggara dinamai “Hindia Belakang”. Sedangkan tanah air memperoleh nama “Kepulauan Hindia” (Indische ArchipelIndian Archipelagol’Archipel Indien) atau “Hindia Timur” (Oost IndieEast IndiesIndes Orientales). Nama lain yang juga dipakai adalah “Kepulauan Melayu” (Maleische ArchipelMalay Archipelagol’Archipel Malais).

Pada jaman penjajahan Belanda, nama resmi yang digunakan adalah Nederlandsch-Indie (Hindia Belanda), sedangkan pemerintah pendudukan Jepang 1942-1945 memakai istilah To-Indo (Hindia Timur).

Eduard Douwes Dekker ( 1820 – 1887 ), yang dikenal dengan nama samaran Multatuli, pernah mengusulkan nama yang spesifik untuk menyebutkan kepulauan tanah air kita, yaitu Insulinde, yang artinya juga “Kepulauan Hindia” ( Bahasa Latin insula berarti pulau). Nama Insulinde ini kurang populer.

 
 
oleh Jacques Leclerc

27 Oktober 1920, Komisi Negara yang didirikan di Hague pada 20 Desember 1918, mengubah draft tentang konstitusi Hindia Belanda, dan memuat laporan artikel 1 yang berbunyi: “Kerajaan Belanda meliputi wilayah di Eropa sebagaimana negeri jajahan dan kepemilikan dari bagian dunia.

Setelah disetujui pemerintah, laporan itu kemudian menjadi: “Kerajaan Belanda meliputi Belanda, Hindia-Belanda, Suriname, dan Curacao dimana dalam hukum dasar tanah jajahan termasuk di dalamnya: Hindia-Belanda, Suriname, dan Curacao”.

1 November 1921, artikel 1 itu didiskusikan dalam Second Chamber dari parlemen. Dua amandemen diajukan. Yang pertama disampaikan oleh Partai Demokrat Liberal. Isinya:

“Terdapat dua perbedaan entitas: Suriname dan Curacao. Sementara orientasi Eropa atau Eropa-sentris dilarang dan nama pra-Belanda bagi kawasan Amerika diadapsi di Timur, sebutan Hindia-Belanda tetap dipakai. Sebutan Hindia-Belanda itu telah menggabungkan wilayah yang masih mengacu secara legal sebagai kawasan Asia milik Belanda dan Australia; dibawah sebutan yang mengandung unsur Eropa dan Belanda, atas apa yang disebut sebagai sebuah kepulauan yang terentang diantara dua benua”.

“Tapi mengapa masih terikat dengan nama Hindia-Belanda? Mengapa mencantelkan sebutan Belanda bagi Hindia, ketika artikel 1 tak mengacu pada Suriname-Belanda atau Curacao-Belanda?” tanya wakil sosialis J.W. Albarda.

“Mengapa disebut demikian, seolah-olah nasib kerajaan tergantung pada nama tersebut?” Ketika menyampaikan amandemen komunis, W. van Ravesteyn terinspirasi perdebatan dalam Volksraad enam bulan sebelumnya. Dalam sebuah dewan konsultatif di Volaksraad dengan mayoritas Belanda yang dibentuk di Batavia pada tahun 1918. Dia menekankan bahwa amandemennya memperhatikan sebutan Indonesia berdasarkan mosi yang diajukan oleh van Hinloopen-Labberton, Cramer, dan Vreede di Volaksraad.

Sebagai persoalan nyata, tambahnya, Indonesie merupakan kata Belanda yang berhubungan dengan kata asli Indonesia. Meski bukan berasal dari bahasa pribumi, tapi kata itu merupakan kata asli seperti ditunjukkan dalam diskusi di tingkat geografis dan politis. Kata Indonesia, yang kemudian memakai tambahan “sebuah”, yang menunjukkan tentang penduduk, memperlihatkan bahwa bangsa tersebut merupakan milik dan menjadi identitas mereka. Sebuah identitas yang akan membawa mereka pada kemerdekaan. Sebagaimana di Belanda dan wilayah lainnya, nama Indonesie atau Indonesia diremehkan sebagai; “baru pantas bagi nama sebuah jenis cerutu”, begitulah beberapa orang menyebutnya dalam Volksraad.

 
 
Anda mungkin tak akan lupa foto yang ada di buku sejarah. Kalau melihat gambar hitam putih ada orang ditandu, kita langsung berpikir. Jederal Sudirman. Kini tandu tersebut diabadikan di museum Museum Satria Mandala.

Lalu bagaimana dengan nasib para pemikul tandunya? Berikut tulisan tentang nasib mereka yang saya ambil dari malangraya.web.id
Picture
Tandu J. Sudirman diabadikan di Museum Satria Mandala
Picture
Ketika J. Sudirman ditandau dalam bergerilya
Picture
Perjuangan kemerdekaan bangsa Indonesia memang takkan pernah dilupakan rakyat. Akan tetapi, tak banyak sosok pejuang yang bisa diingat rakyat. Djuwari (82 tahun), barangkali satu dari sekian banyak pejuang yang terlupakan. Kakek yang pernah memanggul tandu Panglima Besar Jenderal Soedirman itu, kini masih berkubang dalam kemiskinan.

Tepat pada peringatan proklamasi 17 Agustus, Malang Post berusaha menelusuri jejak pemanggul tandu sang Panglima Besar. Djuwari berdomisili di Dusun Goliman, Desa Parang Kecamatan Banyakan Kabupaten Kediri, kaki Gunung Wilis. Kampungnya merupakan titik start rute gerilya Panglima Besar Sudirman Kediri-Nganjuk sepanjang sekitar 35 km.

Dari Malang, dusun Goliman bisa ditempuh dalam waktu sekitar empat jam perjalanan darat. Kabupaten Kediri lebih dekat di tempuh lewat Kota Batu, melewati Kota Pare Kediri hingga menyusur Tugu Simpang Gumul ikon Kabupaten Kediri. Terus melaju ke jurusan barat, jalur ke Dusun Goliman tak terlalu sulit ditemukan.

Sejam melewati jalur mendaki di pegunungan Wilis, Malang Post pun tiba di pedusunan yang tengah diterpa kemarau. Rute Gerilya Panglima Besar Jenderal Soedirman memang sangat jauh dari keramaian kota. Titik start gerilya berada di kampung yang dikepung bukit-bukit tinggi dan tebing andesit.

“Inggih leres, kulo Djuwari, sampeyan saking pundi?” kata seorang kakek yang tengah duduk sambil memegang tongkat di sudut rumah warga Dusun Goliman.

Melihat sosok Djuwari tak nampak kegagahan pemuda berumur 21 tahun, yang 61 tahun lalu memanggul Panglima Besar. Namun dipandang lebih dekat, baru tampak sisa-sisa kepahlawanan pemuda Djuwari. Sorot mata kakek 13 cucu itu masih menyala, menunjukkan semangat perjuangan periode awal kemerdekaan.

Sang pemanggul tandu Panglima Besar itu mengenakan baju putih teramat lusuh yang tidak dikancingkan. Sehingga angin pegunungan serta mata manusia bebas memandang perut keriputnya yang memang kurus. Sedangkan celana pendek yang dipakai juga tak kalah lusuh dibanding baju atasan.

Rumah-rumah di Dusun Goliman termasuk area kediaman Djuwari tak begitu jauh dari kehidupan miskin. Beberapa rumah masih berdinding anyaman bambu, jika ada yang bertembok pastilah belum dipermak semen. Sama halnya dengan kediaman Djuwari yang amat sederhana dan belum dilengkapi lantai.

“Sing penting wes tau manggul Jenderal, Pak Dirman. Aku manggul teko Goliman menyang Bajulan, iku mlebu Nganjuk,” ujar suami almarhum Saminah itu ketika ditanya balas jasa perjuangannya.

Dia bercerita, memanggul tandu Pak Dirman (panggilannya kepada sang Jenderal) adalah kebanggaan luar biasa. Kakek yang memiliki tiga cicit itu mengaku memanggul tandu jenderal merupakan pengabdian. Semua itu dilakukan dengan rasa ikhlas tanpa berharap imbalan apapun.

Sepanjang hidupnya menjadi eks pemanggul tandu Soedirman, keluarga Djuwari beberapa kali didatangi cucu Panglima Besar. Pernah suatu kali diberi uang Rp 500 ribu, setelah itu belum ada yang datang membantu. Pemerintahan yang cukup baik kepadanya adalah pada zaman Soeharto, sesekali dia digelontor bantuan beras.

“Biyen manggule tandu yo gantian le, kiro-kiro onok wong pitu, sing melu manggul teko Goliman yaiku Warso Dauri (kakak kandungnya), Martoredjo (kakak kandung lain ibu) karo Djoyo dari (warga Goliman),” akunya.

Perjalanan mengantar gerilya Jenderal Soedirman seingatnya dimulai pukul 8 pagi, dengan dikawal banyak pria berseragam. Rute yang ditempuh teramat berat karena melewati medan berbukit-bukit dan hutan yang amat lebat. Seringkali perjalanan berhenti untuk beristirahat sekaligus memakan perbekalan yang dibawa.

“Teko Bajulan (Nganjuk), aku karo sing podho mikul terus mbalik nang Goliman. Wektu iku diparingi sewek (jarit) karo sarung,” imbuhnya.

Ayah dari empat putra dan empat putri itu menambahkan, waktu itu, istrinya (sudah dipanggil Tuhan setahun lalu) amat senang menerima sewek pemberian sang Jenderal. Saking seringnya dipakai, sewek itupun akhirnya rusak, sehingga kini Djuwari hanya tinggal mewariskan cerita kisahnya mengikuti gerilya.
Pak Dirman pesen, urip kuwi kudu seng rukun, karo tonggo teparo, sak desa kudu rukun kabeh,” katanya.

Dari empat warga Dusun Goliman yang pernah memanggul tandu Panglima Besar, hanya Djuwari seorang yang masih hidup. Putra Kastawi dan Kainem itu masih memiliki kisah dan semangat masa-masa perang kemerdekaan. Ketika ditanya soal periode kepemimpinan Presiden Soekarno hingga SBY, Djuwari dengan tegas mengatakan "TIDAK ADA BEDANYA" ref: Malangraya

 
 
PictureKoin dinar dari Dinasti Umayyah. Dailymail.co.uk
London: Sebuah koin dinar dari Dinasti Umayyah, kerajaan Arab pertama dilelang di London, pada Mei 2013. Uang logam yang dibuat tahun 690 ini dicetak di Damaskus, Suriah. Terbuat dari emas, koin ini memiliki berat empat gram.  

"Koin ini diharapkan dapat dilepas dengan harga 500 ribu poundsterling," tulis Mail Online, Senin, 15 April 2013. Angka 500 ribu pondsterling setara dengan Rp 7,4 miliar. 

Logam mulia itu memiliki ukiran dalam huruf arab gundul. Yakni dua kalimat syahadat pada bagian tengah koin. "Tidak ada tuhan selain Allah, dan Muhammad adalah utusan Allah."

Kata Andre Di Clement, kepala koin Islam di Pusat Lelang Baldwin, London, koin ini begitu penting dalam sejarah penyebaran Islam dari India ke Spanyol. Sebab dalam penyebarannya, Umayyah memusnahkan seluruh koin. Kemudian menggantikannya dengan koin buatan khusus Umayyah.

"Koin ini digunakan dalam pembiayaan pembangunan Kerajaan Umayyah," kata Clement. "Dan tiap tahun, mereka membuat koin baru."

Logam emas bersejarah ini milik seorang kolektor Eropa. Di usia ke-80 tahun, ia telah mengumpulkan koin serupa selama 35 tahun. Dan selama itu, sang kolektor kerap mendatangi lelang di Swiss, Prancis, serta Amerika Serikat, guna melengkapi koleksinya.

"Si kolektor memiliki anak dan cucu yang tak tertarik dengan koin bersejarah," ujar Celemnt. "Tidak ingin koin berharga itu menjadi sia-sia, dia pun melelangnya." ref: tempo.co


 
 
Picturehantu kemerdekaan pers indonesia
Oleh: Fachrul Khairuddin
Pengantar
Tempo, majalah mingguan ini terbit perdana pada April 1971 dengan berita utama mengenai cedera parah yang dialami Minarni, pemain badminton andalan Indonesia di Asean Games Bangkok, Thailand. Dimodali Rp 20 juta oleh Yayasan Jaya Raya milik pengusaha Ciputra; digawangi oleh mereka para seniman yang mencintai pekerjaannya dan para wartawan berpengalaman yang dipecat atau keluar dari tempat kerja sebelumnya: Ekspress, Kompas, dan lainnya.

Para seniman dan wartawan itu adalah Goenawan Mohamad (Ketua Dewan Redaksi), Bur Rasuanto (Wakil Ketua), Usamah, Fikri Jufri, Cristianto Wibisono, Toeti Kakiailatu, Harjoko Trisnadi, Lukman Setiawan, Syu’bah Asa, Zen Umar Purba, Putu Wijaya, Isma Sawitri, Salim Said, dan lainnya. Satu orang kepercayaan dari Yayasan Jaya Raya juga turut serta mengelola Tempo, yaitu Eric Samola.

Mengapa bernama Tempo? Pertama, singkat dan bersahaja, enak diucapkan oleh lidah orang Indonesia dari segala jurusan; kedua, terdengar netral, tidak mengejutkan dan tidak merangsang;ketiga, bukan simbol sebuah golongan, dan keempat, Tempo adalah waktu.

Tempo meniru Time? Benar Tempo meniru waktu, selalu tepat, selalu baru. Kalimat ini diiklankan Tempo pada terbitan 26 Juni 1971 guna menjawab surat seorang pembaca yang berkesimpulan bahwa Tempo telah meniru Time. Kesimpulan yang wajar melihat sepintas cover Tempo memang mirip Time: segi empat dengan pinggiran merah. Bahkan, pada 1973, Timemenggugat Tempo melalui pengacara Widjojo, namun akhirnya dapat diselesaikan dengan damai.

Edisi pertama Tempo laku sekira 10.000 eksemplar. Disusul edisi kedua yang laku sekira 15.000 eksemplar. Progress penjualan oplah ini menepis keraguan Zainal Abidin, bagian sirkulasi Tempo,yang menganggap majalah ini tidak akan laku. Selanjutnya, oplah Tempo terus meningkat pesat hingga pada tahun ke-10, penjualan Tempo mencapai sekira 100.000 eksemplar.

Dalam perjalanannya, terjadi dualisme kepemimpinan di tubuh Tempo antara Goenawan dengan Bur. Keduanya memiliki perbedaan ide dasar. Goenawan ingin Tempo bergaya tulis feature(bercerita), sedangkan Bur cenderung ke news. Keduanya pun sering berbeda paham dan saling bertolak pendapat.

Puncaknya pada saat Bur melemparkan air kopi ke arah Goenawan. Tindakan yang dianggap kelewatan oleh Goenawan hingga dia meminta kepada Eric Samola untuk memutuskan, apakah dia yang keluar atau Bur. Akhirnya Bur yang mengundurkan diri dari Tempo.


 
 
Pencipta nama "indonesia" itu adalah J. Richardson Logan, penerbit (journal of the indian archipelago and easters asia:1896). Jurnal ini diterbitkan bulanan atau pada interval yang tepat sampai 1859. Sebelum penerbitan Journal, Logan sudah editor dari Pinang Gazette, sebuah usaha menunjukkan pengabdian dalam melayani masyarakat. Logan sangat menganjurkan kebebasan berbicara serta hukum dan ketertiban, dan dalam semangat ini, melalui Journal, ia mendorong opini publik untuk mengakhiri kekuasaan India di Straits Settlements. Logan sendiri memberikan kontribusi riset asli melalui pengamatan membosankan kehidupan dan budaya lokal, khususnya di bidang geologi, eksplorasi geografis dan khususnya filologi. Logan dikreditkan untuk menciptakan istilah "Indonesia", menjelaskan bahwa itu harus mengacu pada wilayah geografis daripada konsep ethonological. Meskipun gairah, Kondisinya lemah dan ia tidak mampu mempertahankan upaya terkonsentrasi studi. Memakai nama indonesia pada pertama kali di pulau pinang. 

Yang membikin terkenal sungguh-sungguh adalah prof. Adolf Bastian, seorang ahli etnologi. dalam bukunya, "indonesien order die inseln des malayschen archipels" yang menegaskan tentang arti kepulauan dgn kata indonesia, yang dahulu di kenal dengan nusantara, kemudian hindia belanda sejak dkuasai oleh VOC (sunario, 1949:24-25).

Kemudian ditegaskan kembali oleh sunario, nama indonesia digunakan pertama kalinya oleh org pribumi sendiri pada perhimpunan pelajar pribumi di belanda dengan sebutan perhimpunan pelajar indonesia. Sedangkan di tanah air adalah golongan komunis yg pertama kali memakai nama indonesia, yakni PKI (partai komunis Indonesia). Lalu pada kongres pemuda I nama indonesia disebutkan sebagai ikatan untuk mempersatu perjuangan, kemudian dilanjutkan di kongres pemuda II yg menghasilkan keputusan "sumpah pemuda" dan sampai proklamasi 17 agustus 1945 baru lah lahir negara indonesia. Winarso


 
 
AKU mengerti bahwa semua ini adalah cobaan rintangan yang harus aku hadapi sendiri,
ya allah maafkan segala salah dan dosa ku, maafkan khilaf ku, ya allah lancarkanlah jalan ku dan berikanlah petunjukmu.....
 
 
PictureSuasana pengangkatan Syafe'i
Kontroversi Presiden Sukarno dalam pengangkatan Menteri Mayor Syafe’i sebagai Menteri.  Mayor Syafe’i  diangkat sebagai menteri dalam Kabinet Bung Karno di saat situasi amat kritis, yaitu setelah Gestapu 1965.

Syafe’i adalah Boss copet Pasar Senen (Preman Pasar), dia punya geng yang amat ditakuti di Pasar Senen namanya: Geng Kobra. Di masa revolusi 1945, copet senen itu menjadi salah satu gerilyawan yang paling ditakuti pasukan Tijger Belanda, Sjafe’i bikin laskarnya sendiri yang banyak menyerang tangsi KNIL Belanda di sekitaran Kwini, salah satu pertempuran terkenal Sjafe’i adalah serangan Februari 1946, yang kemudian membuat marah Belanda dan Belanda membalas dengan patroli lalu menembaki rumah Bung Karno di Pegangsaan.

Bung Karno berharap pengangkatan Sjafe’i ini akan meredam protes-protes mahasiswa di Jakarta yang dinilai mangkin kurang ajar. Namun pengangkatan Sjafe’i ini menjadi olok-olok mahasiswa pada waktu itu, nyanyian olok-olok ini dinyanyikan sepanjang jalan saat mahasis demo “Tek kotek kotek kotek koteeek, ada menteri kok tukang copet".

 
 
Picture
Purwokerto, kota kecil di selatan Jawa Tengah, menyala-nyala. Bintang Merah, bendera Murba, berderet-deret setengah kilometer dari alun-alun kota hingga Societeit, balai pertemuan merangkap gedung bioskop. Tiga ratusan orang memenuhi bangunan itu. Mereka wakil dari 141 organisasi politik, organisasi kemasyarakatan, dan laskar.

Nirwan, guru Sekolah Rakyat dan aktivis Murba, mengingat petang itu, 4 Januari 1946, tepat seratus hari pasukan Sekutu mendarat di Jawa. “Orang berduyun-duyun ke kota ingin menyaksikan tamu yang datang,” ujar pria yang saat itu berusia 16 tersebut.